Cerita Mesum | Akhir Dari Kisah Perselingkuhanku
- Malam itu Rini sedang menangis di hadapanku. Kisah selingkuh kami
ketahuan oleh istriku. Aku yang sangat mencintai istriku telah berjanji
untuk berhenti selingkuh, dan malam ini adalah kesempatanku untuk
menjelaskan pada Rini. Rini adalah wanita berjilbab yang masih single,
berusia 22 tahun. Dulunya dia adalah rekan kerja dari sahabatku. Hobi
fotografi membuat kami saling kenal, karena dia bersedia untuk difoto
olehku yang masih sangat pemula.
Tidak
lama setelah berkenalan, Rini mulai menceritakan kisah cintanya yang
ternyata tidak bahagia. Meskipun telah berencana untuk menikah, calon
suaminya ternyata sering berlaku keras dan berkata kasar. Akupun sering
bercerita tentang masalah keluargaku. Pernikahan di usia muda membuatku
dan istri sering bertengkar. Sementara ketika menghadapi Rini yang sabar
dan penyayang, aku merasa sangat nyaman. Begitu juga yang Rini rasakan
ketika bertemu aku. Tanpa sadar, kami pun sering berhubungan lewat sms
dan mulai mengatakan saling menyayangi. Hanya saja, sebuah sms yang
salah kirim membongkar semua. Kini Rini bersedia datang menemuiku di
kamar kosan tempat kami biasa berduaan.
Rini
yang mencoba memahami situasi ini terlihat sangat sedih. Katanya dia
takut kehilangan aku. Oh, betapa tangis wanita selalu bisa melumpuhkan
dunia, begitupun aku saat itu. Wanita ini sangat baik, sabar, penyayang,
dan memiliki keinginan kuat. Matanya yang sembab membuatku sangat ingin
memeluknya, mungkin untuk yang terakhir kali. Akhirnya kuraih tangannya
dan meletakkan kepalanya di pundakku. Isak tangisnya pun meledak, tak
lagi sanggup dibendung. Entah mengapa aku sangat merasa bersalah,
meskipun aku merasa itu salah kami berdua. Semakin erat pelukanku
kepadanya, dan kurasakan dia melakukan hal yang sama. Kemudian kuangkat
wajahnya, kudekatkan kewajahku, aku tak sanggup menahan bibir untuk
bicara,
“I Love You, Rini”. Dalam isak tangisnya dia juga berkata,
“Love You Too, Ari…”. Sungguh bergetar hatiku saat itu, dan tidak terasa aku mengecup bibirnya perlahan.
Cerita Mesum.
Kulihat untuk sesaat Rini memejamkan matanya, sepertinya dia merasakan
getaran perasaan hingga ke hati. Kurasakan jantungku berdetak semakin
cepat. Rasa sayang ini menyatu bersama kekecewaan mendorongku untuk
memagutnya lebih dalam. Kukulum bibirnya yang ranum dan jarang disentuh
laki-laki, dan kurasakan bibirnyapun membalas ciumanku. Sepertinya
“pertemuan terakhir” ini menjadi luapan segala emosi yang pernah kita
jalani bersama. Pertemuan sembunyi-sembunyi, memasak untukku, makan
bareng, ciuman-ciuman kecil, dan menghabiskan malam berdua meskipun
hanya memandang bulan. Dan sedikit pelukan tentunya.
Malam
ini Rini terasa seperti kehilangan rem. Lidahku mulai menjelajah liang
mulutnya, meraba deretan giginya, dan sesekali dihisapnya. Ketika
kutemukan lidahnya, kuelus dengan lidahku dan bertarung dahsyat. Bibir
dan kepala kamipun mulai bergerak liar. Pelukan yang tadinya kencang
mulai mengendur, karena satu tanganku tidak lagi memeluk. Dia telah
berpindah ke depan untuk memegang lembut dadanya.
Sebuah
reflek yang biasa kulakukan ketika berciuman dengan istriku, tapi ini
yang pertama kali kulakukan pada Rini. Awalnya aku kaget dan takut
membuat Rini marah, namun anehnya Rini tidak bereaksi apapun kecuali
melanjutkan aksi ciuman kami. Karena merasa dia memberikan ijin,
tanganku mulai meraba kedua perhiasan yang selama ini dijaganya itu.
Payudaranya memang tidak besar, namun menyentuhnya membuat darahku makin
memanas.
Di
saat itu sepertinya rem kami berdua makin blong. Kurebahkan Rini yang
masih berbusana lengkap plus jilbab di kasurku, supaya aku bisa leluasa
menciumnya sambil menjelajahi dua bukit muda yang jarang dijamah itu.
Terasa makin lama nafas Rini pun makin memburu, seolah mengisyaratkan
kepadaku bahwa dia ingin kumiliki. Ciuman kami dan rabaanku semakin liar
hingga jilbabnya mulai berantakan.
Karena
makin menggangu, maka kulepas saja jilbab itu, namun agak sulit karena
banyak peniti disana sini. Jilbab itu akhirnya tanggal setelah dia
membantunya. Tampaklah wajah dan rambutnya yang baru pertama ini
kulihat. Wajah putihnya yang cantik ditambah rambutnya yang acak-acakan
semakin membuatku menjadi bernafsu. Untuk sementara kulupakan rasa
bersalahku, kulupakan rasa hormatku, dan kulupakan istriku. Yang ada
hanya nafsu yang memuncak.
Tak
tahan lalu kucoba mencari kancing bajunya, dan ingin kulepaskan. Aku
menjelajah ke seluruh tubuhnya, namun tak kutemukan. Aku ternyata kurang
akrab dengan baju seperti ini. Rini yang mengetahui kebingunganku
tersenyum kecil dan membuka resleting baju yang ada di bagian samping,
dan membiarkan aku melakukan sisanya. Tanpa lama-lama lagi, kubuka baju
itu, dan terpampang sebuah pemandangan yang sangat indah yang seperti
baru pertama kali kulihat.
Hamparan
kulit putih bersih dan tercium wangi yang biasa ditutup sangat rapat
sekarang terbuka lebar di hadapanku untuk kunikmati. Kuelus lembut
perutnya, dan ternyata sangat sangat halus dan lembut. Payudara yang
tersembul tertutupi bra warna hijau adalah puncak keindahan pemandangan
itu. Namun aku yakin ada yang lebih indah di dalamnya. Kulepas paksa bra
itu, diiringi rintihan penolakan kecil yang tak berarti dan tidak
menghentikan aku untuk melakukannya. Tak perlu usaha keras, bra itupun
tak lagi menutupi keindahan itu. Dua buah payudara yang putih dan sangat
mulus, berujungkan puting kecil berwarna merah muda yang menegang.
Warnanya yang merah muda segar menandakan area ini belum pernah dijamah
pria manapun.
Sungguh
makin tak kuasa aku menahan gejolak ini. Kuremas payudara itu dengan
lembut, dan kuhisap putingnya. Gerak lidahku bermain membuat Rini
mendesah-desah pendek, sambil menggerak-gerakkan kakinya. Aku tahu dia
gelisah, terjadi pertarungan antara ketakutan karena ini adalah
pengalaman pertama, sekaligus dorongan nafsu yang sudah di ubun-ubun.
Kurasakan tangannya menyentuh bagian belakang kepalaku dan membantunya
bergerak. Dia menikmati itu. Pasti. Ciumanku kembali ke atas, menjamah
leher dan kemudian telinganya. Aku sempat bertanya,
“Kenapa mau Rin?”. Sambil menyentuhkan payudaranya ke dadaku yang kini bersentuhan, dia berbisik,
“Beginilah kalau wanita sudah cinta, Ari..”. Karena terbawa suasana,
tanganku kini menjelajah pangkal pahanya yang masih tertutup rok panjang
warna hitam.
Untuk
sejenak kucari celah kecil dari luar rok, dan kurasakan Rini
melonggarkan kakinya dan menikmati itu. Tak lama kuangkat rok itu hingga
pinggang, namun masih ada stocking yang menggangguku. Pertahanan wanita
ini sungguh berlapis. Maksudnya memang untuk menjaga diri dari godaan
lelaki. Apa daya malam ini dia benar-benar takluk padaku. Kulepaskan
stockingnya dengan terburu-buru dan kulemparkan entah kemana. Celana
dalam sebagai pertahanan terakhirpun segera kutanggalkan. Aku sangat
tidak tahan.
Setelah
kupastikan celah itu sudah basah melalui sentuhan jariku, kupindahkan
kepalaku menuju vagina nya. Tercium aroma khas yang agak asam dan wangi,
dan berbulu tidak terlalu lebat. Wanita ini benar-benar merawat aset
pribadi nya. Kucium dan kujilat-jilat pintu vaginanya, membuat Rini
mengerang lebih keras. Terdengar rintihannya, “Ariiii, oh, Ariiiii…
shhhh…”. Rintihan yang seperti penyemangat ku untuk mengeksplor lebih,
kucari klitorisnya, kujilat dan kukulum.
Lidahku
kumainkan berirama, cepat dan lambat bergantian. Tidak lama, kurasakan
pahanya bergetar dan tangannya mencengkeram rambutku sekitar 3 detik,
lalu melemas. Sepertinya dia orgasme. Barangkali untuk yang pertama kali
sepanjang hidupnya. Kuhentikan semua aktifitasku. Kubiarkan dia
telentang agak ngangkang dengan mata terpejam dan nafas yang masih
memburu. Hanya rok yang tersingkap di pinggang yang tersisa di tubuhnya.
Kupandangi sekujur tubuhnya yang putih mulus tanpa cacat. Sungguh
sayang badan seperti ini selalu ditutup. Betapa beruntung laki-laki yang
memilikinya nanti, pikirku.
Namun
tiba-tiba aku berpikir, bukankah aku lebih beruntung jika berhasil
merasakannya untuk yang pertama kali? Seketika hasratku kembali
memuncak. Kulepaskan seluruh pakaianku tanpa sisa. Senjataku yang
mengeras tampak tegang menantang. Rini melihat itu tidak terlihat kaget.
Mungkin dia pernah melihatnya di bokep atau di tempat lain. Segera
kudekatkan ke mulutnya dan dengan sigap Rini mengulum dan menghisapnya.
Dari
caranya memperlakukan itu, sepertinya itu bukan yang pertama. Mungkin
calon suaminya pernah memaksa melakukan itu. Atau memang dia sangat
berbakat, entahlah. Yang pasti dari bentuk dada dan responnya terhadap
rangsanganku, calon suaminya itu seperti tidak berani bertindak jauh
dalam menjamah Rini. Ah, sudahlah, tidak perlu memikirkan orang lain.
Yang jelas kuluman ini terasa sangat nikmat, pinggangku otomatis
mengikuti gerak maju mundur. Sesekali mata Rini melirik mataku dan
tersenyum ketika melihat aku keenakan.
Tak
lama kulepaskan senjataku dari mulutnya. Aku rasa inilah saatnya.
Segera badanku menindihnya, langsung mengulum bibir Rini dan
meremas-remas dadanya. Rini seperti belum siap untuk kembali terangsang,
tapi aku tidak peduli. Kulitku telah menyentuh kulit putih mulusnya,
dan senjataku bergerak-gerak di depan liang kenikmatan itu. Aku menatap
matanya seolah bertanya, dan spontan kepala Rini menggeleng. Namun
ketika kupagut lagi bibirnya, gelengannya berhenti, berganti dengan
ciuman balasan yang maut, pelukan ke pundak, dan lutut yang kini
menekuk. Karena kuanggap dia lengah, maka nekat saja kudorong kepala
senjataku memasuki liang vaginanya.
Keningnya
mengrenyit, ciumannya berhenti, dan kembali menggeleng. Namun badannya
tidak bereaksi apapun. Maka kudorong lagi pinggangku lebih dalam. Rini
terpejam dan memalingkan mukanya. Tangannya yang masih melingkar di
pundakku terasa menegang. Tak tahan lagi, maka kucoba masukkan lebih
dalam. Dan, blessssssss… separuh senjataku pun masuk diiringi lenguhan
tertahan dari Rini.
Kurasakan
senjataku mentok tertahan tidak bisa masuk lagi, maka kugoyangkan saja
separuh yang di dalam itu. Aku merasa sangat sangat nikmat. Kehangatan
vagina wanita yang disetubuhi pertama kali memang tak tergantikan. Tak
ada lagi bentuk penolakan apapun dari Rini. Dia hanya terpejam dan
keningnya mengrenyit. Maka kupagut lagi lehernya, kutinggalkan cupang
kecil untuk kenang-kenangan. Ketika pinggang Rini mulai ikut bergerak,
kucabut lagi senjataku dari liangnya, lalu kumasukkan kembali
perlahan-lahan. Masuk-keluar ini berlangsung beberapa kali hingga secara
refleks tiba-tiba pinggangku menghentak dan mendorong lebih dalam.
Bleessssssss!!!!!
“Aaaaahhhhh…..” Rini kini memekik. “Aaaarrriiiii…”. Senjataku sudah ada di dalam sepenuhnya.
Rini
lalu melingkarkan kakinya di pinggangku. Entah apa yang ada di
pikirannya kini. Yang jelas posisi ini membuatku leluasa untuk memaju
mundurkan pinggangku. Vagina nya yang basah dan hangat benar-benar
nikmat dan membuatku terbang. Seorang wanita berjilbab yang biasa
menutupi tubuhnya dengan pertahanan berlapis sedang berada di bawahku,
kutindih, kusetubuhi, kunikmati, dan kutusuk vagina nya dengan senjata
ampuhku hingga membuatnya keenakan. Kugerakkan pinggangku tanpa ampun.
Senjataku pun keluar-masuk dengan sangat bebas dan berirama. Kadang
cepat dan kadang lambat. Rini benar-benar terbawa suasana dan menikmati
permainan ini.
Kulihat
sekarang Rini mulai on fire. Nafasnya yang memburu, wajahnya yang
memerah, dan pinggulnya yang ikut bergerak menandakan dia sedang
bergerak menuju titik nikmat itu. Kuhentikan gerakanku, kusuruh dia
pindah ke atas. WOT. Sebuah posisi yang agak aneh untuk wanita
berjilbab, namun aku yakin itu akan membuatnya bahagia. Meskipun agak
ragu, Rini menuruti juga. Aku yang telentang dengan senjata mengacung
tegak menunjuk langit segera didudukinya.
Dengan
senjataku ada di dalam vaginanya, Rini bergerak bergoyang mencari
iramanya sendiri. Tanganku membantunya dengan meremas dua bukit
nikmatnya dan meremas pantatnya yang sangat kenyal dan padat, sambil
sesekali meraih kepalanya untuk melumat bibirnya. Setelah beberapa menit
bergoyang, Rini tiba-tiba bergerak tak beraturan sambil mengerang tak
jelas. Tangannya menggenggam lenganku dengan kuat. Gerakan ini
berlangsung sekitar 10 detik. Rini orgasme. Lagi.
Ketika
Rini sudah lemas, kini giliranku untuk menghabisinya. Kubiarkan dia
telentang ngangkang tanpa tenaga, dan ku eksplorasi liang vaginanya
dengan senjataku yang sudah tegang sejak awal permainan tadi. Dengan
wajah sayu dan mata terpejam, Rini menerima begitu saja
sodokan-sodokanku di vaginanya. Sambil merem keluar beberapa suara dari
mulutnya.
“Hmmmpfh..”,
“Ariiii…”,
“Sayaaaangh…”,
“Eeemmmhhh…”,
“Ssssh…”. Aku merasakan nikmat tiada tara yang makin lama makin memuncak.
Gerakan pinggangku makin lama makin cepat, dan senjataku terasa makin
peka. Kupercepat saja goyangan itu karena sodokan itu makin enak, dan
rupanya Rini menyambutnya dengan kembali melingkarkan tangan di pundak
serta kakinya di pinggangku. Spontan kusambut dengan pelukan juga,
dengan dadaku menyentuh payudaranya yang lembut.
Setelah beberapa detik goyanganku mencapai titik tercepat, aku berhenti.
“Riniii… oooooh… Ouch, Ergh, ssssh.. Akkkkuuuuu keellluaaaaar…”.
Semburan sperma tak sanggup kutahan terlepas ke dalam rahim Rini.
Aku
tak ingat apapun termasuk kemungkinan Rini hamil. Aku benar-benar larut
dalam kenikmatan. Spermaku keluar hingga tujuh kali. Setiap kali sperma
keluar, Rini sedikit melenguh sambil menolehkan kepala ke sisi yang
lain. Di semprotan ke empat terasa pelukan Rini kembali menguat dengan
kepalanya bergerak tak teratur dan erangan tipis. Tampaknya Rini orgasme
untuk yang ketiga kali, namun kali ini tidak terlalu kuat. Setelah
semua spermaku kurasakan keluar, akupun terjatuh lemas di sebelah Rini.
Kasur kosku yang tidak luas sangat pas untuk tubuh telanjang kami
berdua. Sungguh kenikmatan luar biasa yang kurasakan saat itu. Terlebih
lagi karena mampu membuat Rini bahagia.
Beberapa
menit setelah kami mulai bisa mengumpulkan kewarasan, Rini kembali
terisak. Kali ini tidak ditahannya. Dibiarkan air mata itu mengalir di
pipinya. Aku tahu dia menyesal, aku tahu dia marah, aku tahu dia kecewa,
namun aku tahu bahwa ini adalah luapan cinta kami yang sangat indah
meskipun salah arah. Selamat tinggal Rini, kenanglah aku selalu.
Kutunggu kabar darimu, dan tak sabar aku melihat seperti apa wajah
anakmu kelak.
Tamat